Jumat, 16 November 2018

REAKSI SUBSITUSI (SN 1 DAN SN 2)


REAKSI SUBSITUSI

Terjadi ketika dua reaktan bereaksi menghasilkan dua produk baru. Misalnya reaksi alkana dengan Cl2 dengan adanya radiasi ultraviolet menghasilkan alkil klorida. Satu atom Cl dari Cl2 menggantikan posisi H pada alkana, dan dua produk baru terbentuk.
 
Atom karbon kepala dari alkil halida memiliki muatan parsial positif.  Karbon ini sangat rentan terhadap serangan anion atau oleh spesies lain yang membawa pasangan elektron bebas. Reaksi substitusi adalah reaksi di mana satu atom, ion, atau grup digantikan dengan atom, ion, atau grup lain. Dalam reaksi substitusi dari alkil halida, halida disebut gugus pergi yang baik karena merupakan basa lemah. Basa kuat seperti "OH” adalah gugus pergi yang buruk.
Pada subsitusi reaksi alkil halida, ion iod merupakan halida yang mudah tergantikan, diikuti dengan ion bromida, ion klorida. F- merupakan basa yang lebih kuat daripada halida yang lain. F bukanlah gugus pergi yang baik.
Spesies yang menyerang alkil halida dalam reaksi subsitusi disebut nukleofil yang berarti suka inti, sering disingkat Nu-. OH- dan  CH3O- adalah nukleofil. Nukleofil adalah spesies yang dapat menarik ke pusat positif. Dengan demikian, nukleofil adalah basa lewis. Sebagian besar nukelofil adalah anio bahkan ada molekul neral pun dapat menjadi nukelofil seperti H2O, CH3OH, and CH3NH2. Subsitusi dengan nukleofil disebut subsitusi nukleofilik. Lawan dari nukleofil adalah elektrofil yang berarti suka elektron, sering disingkat E+. Sebuah elektrofil adalah sebuah spesies yang menarik ke pusat negatif. Elektrofil adalah asa, lewis seperti H+ atau ZnCl2.
 

Subsitusi Nukleofilik 1 (SN 1)
Alkil halida tersier tidak dapat bereaksi secara SN 2. Alkil halida tersier hanya  dapat bereaksi dengan reaksi SN 1 (subsitusi, nukleofilik, unimolekular) dikarenakan adanya halangan sterik. Secara khas, jika suatu enantiomer murni (dari) suatu alkil halida hanya mengandung karbon C-X yang kiral, mengalami suatu reaksi SN 1, maka akan diperoleh produk subsitusi rasemik (bukan produk inversi seperti yang diperoleh dalam reaksi SN 2). Dapat disimpulkan bahwa pada umumnya pengaruh konsentrasi nukleofil pada laju keseluruhan reaksi SN1 sangat kecil (kontras dengan reaksi SN 2, dimana laju berbanding lurus dengan konsentrasi nukleofil).
Reaksi SN 1 adalah reaksi ion. Mekanismenya kompleks karena adanya interaksi antara molekul pelarut, molekul RX dan ion-ion antara yang terbentuk. Reaksi SN 1 suatu alkil halida tersier adalah reaksi bertahap (stepwise reaction). Tahap pertama berupa pematahan alkil halida menjadi sepasang ion: ion halida dan suatu karbokation, suatu ion dalam atom karbon mengemban suatu muatan positif. Reaksi SN 1 melibatkan ionisasi, reaksi-reaksi ini dibantu oleh pelarut polar, seperti H2O yang dapat  menstabilkan ion dengan cara solvasi.
Tahap 1
 
Tahap 2
Tahap 2 adalah penggabungan karbokation itu dengan nukleofil (H2O) menghasilkan produk awal, suatu alkohol berproton.

 

Tahap 3
Tahap terakhir dalam deret ini ialah lepasnya H+ dari dalam alkohol berproton, dalam suatu reaksi asam basa yang cepat dan reversibel dengan pelarut.
 
Tahap-tahap diatas dapat diringkas sebagai berikut

 
Subsitusi Nukleofilik 2 (SN 2)
Metil halida dan alkil primer dapat bereaksi SN 2 dengan nukleofil yang agak kuat seperti OH- dan CN- dan dapat juga bereaksi dengan nukleofil lemah seperti H2O tetapi reaksi ini terlalu lama sehingga tak bermanfaat. Alkil halida sekunder dapat bereaksi SN 2 tetapi alkil halida tersier tidak. Pelarut yang digunakan pada reaksi SN 2 yaitu pelarut yang bersifat polar dan aprotic seperti acetonitrile (CH3CN), dimethylformamide [(CH3)2NCHO, disingkat DMF] dan dimethyl sulfoxide [(CH3)2SO, disingkat DMSO].

 
Dalam setiap reaksi kimia, ada hubungan langsung antara tingkat  yang terkonsentrasi dari reaktan. Ketika kita mengukur hubungan ini, kita mengukur kinetika reaksi. Sebagai contoh, mari lihat kinetik substitusi nukleofilik sederhana – reaksi CH3Br dengan OH2 menghasilkan CH3OH dan Br2.

Ciri penting mekanisme SN 2 adalah bahwa reaksi ini terjadi dalam satu tahap tanpa intermediet ketika nukleofil yang masuk bereaksi dengan alkil halida atau tosylate (substrat) dari arah berlawanan dengan gugus yang digantikan (leaving group). Ketika nukleofil masuk pada salah satu sisi substrat dan berikatan dengan karbon, maka halida akan pergi dari sisi lain. Laju reaksi kimia ditentukan oleh energi aktivasi,perbedaan energi antara keadaan dasar reaktan dan status transisi. Adanya perubahan dalam kondisi reaksi dapat mempengaruhi energi aktivasi baik dengan mengubah reaktan tingkat energi atau dengan mengubah tingkat energi keadaan transisi.

PERMASALAHAN
Dari materi yang saya paparkan diatas maka dapat diperoleh permasalahan sebagai berikut
1. Faktor apa saja yang meningkatkan kestabilan pada karbokation tersier sehingga karbokation tersier lebih stabil daripada metil, karbokation primer dan karbokation sekunder?
2. Apa yang menyebabkan beberapa reaksi SN 2 berlangsung cepat dan lainnya berjalan lambat dan beberapa terjadi pada hasil tinggi dan yang lainnya dalam hasil rendah?
3. Jelaskan pengaruh pelarut yang digunakan pada reaksi SN 1 dan SN 2!

REFERENSI
Fessenden, R.J dan J.S. Fessenden. 1982. Organic Chemistry Third Edition. Jakarta : Erlangga.
McMurry, J.E. 2012. Organic Chemistry, Eighth Edition. USA : Cengage Learning.

TERIMA KASIH ^-^


27 komentar:

  1. Baiklah terimakasih penjelasannya Riaa, menurut saya jawabannya sebagai berikut:
    1. Gugus alkil mengandung lebih banyak atom dan elektron daripada sebuah atom hidrogen. Makin banyak gugus alkil terika pada atom karbon bermuatan postif, berarti makin banyak atom yang dapat membantu membagi muatan positif itu dan menstabilkan karbokation.
    2. Pada kondisi yang sama, reaksi dengan energi aktivasi rendah akan berjalan dengan lebih cepat. Semakin sedikit energi yang diperlukan untuk reaksi, akan semakin banyak molekul yang memiliki cukup energi untuk bereaksi.
    3. Tingkat SN sangat dipengaruhi oleh pelarut. Pelarut Protik— yang mengandung OH atau grup NH - umumnya yang terburuk untuk reaksi SN 2,sementara pelarut aprotik polar, yang polar tetapi tidak memiliki] OH atau] Grup NH, adalah yang terbaik. Pelarut protik, seperti metanol dan etanol, memperlambat reaksi SN 2 oleh solvasi nukleofil reaktan dan menurunkan energinya serta reaktivitas. Berbeda dengan pelarut protik, yang menurunkan tingkat reaksi SN 2 dengan menurunkan energi keadaan dasar dari nukleofil, pelarut aprotik polar meningkatkan laju reaksi SN 2 dengan meningkatkan energi ground-state dari nukleofil.

    Semoga membantuu ya.

    BalasHapus
  2. Haii Kak Grace
    Terimakasih materinya.
    Saya akan menjawab no. 2

    2. Pada kondisi yang sama, reaksi dengan energi aktivasi rendah akan berjalan dengan lebih cepat. Semakin sedikit energi yang diperlukan untuk reaksi, akan semakin banyak molekul yang memiliki cukup energi untuk bereaksi.

    BalasHapus
  3. terimakasih Grace atas pemaparan materinya
    saya angkan menjawab permasalahan no.3
    menurut saya, Tingkat SN sangat dipengaruhi oleh pelarut. Pelarut Protik— yang mengandung OH atau grup NH - umumnya yang terburuk untuk reaksi SN 2,sementara pelarut aprotik polar, yang polar tetapi tidak memiliki] OH atau] Grup NH, adalah yang terbaik. Pelarut protik, seperti metanol dan etanol, memperlambat reaksi SN 2 oleh solvasi nukleofil reaktan dan menurunkan energinya serta reaktivitas. Berbeda dengan pelarut protik, yang menurunkan tingkat reaksi SN 2 dengan menurunkan energi keadaan dasar dari nukleofil, pelarut aprotik polar meningkatkan laju reaksi SN 2 dengan meningkatkan energi ground-state dari nukleofil

    BalasHapus
  4. Terima kasih ria
    Saya akan coba menjawab
    1. Gugus alkil mengandung lebih banyak atom dan elektron daripada sebuah atom hidrogen. Makin banyak gugus alkil terika pada atom karbon bermuatan postif, berarti makin banyak atom yang dapat membantu membagi muatan positif itu dan menstabilkan karbokation.
    2. Pada kondisi yang sama, reaksi dengan energi aktivasi rendah akan berjalan dengan lebih cepat. Semakin sedikit energi yang diperlukan untuk reaksi, akan semakin banyak molekul yang memiliki cukup energi untuk bereaksi.
    3. Reaksi SN sangat dipengaruhi oleh pelarut. Pelarut Protik— yang mengandung OH atau grup NH - umumnya yang terburuk untuk reaksi SN 2,sementara pelarut aprotik polar, tetapi tidak memiliki OH atau grup NH, adalah yang terbaik. Pelarut protik, seperti metanol dan etanol, memperlambat reaksi SN 2 sedangkan pelarut aprotik polar meningkatkan laju reaksi SN 2.

    BalasHapus
  5. Terima kasih atas materinya. Menurut saya nomor 3 itu Tingkat SN sangat dipengaruhi oleh pelarut. Pelarut Protik— yang mengandung OH atau grup NH - umumnya yang terburuk untuk reaksi SN 2,sementara pelarut aprotik polar, yang polar tetapi tidak memiliki] OH atau] Grup NH, adalah yang terbaik. Pelarut protik, seperti metanol dan etanol, memperlambat reaksi SN 2 oleh solvasi nukleofil reaktan dan menurunkan energinya serta reaktivitas. Berbeda dengan pelarut protik, yang menurunkan tingkat reaksi SN 2 dengan menurunkan energi keadaan dasar dari nukleofil, pelarut aprotik polar meningkatkan laju reaksi SN 2 dengan meningkatkan energi ground-state dari nukleofil.

    BalasHapus
  6. Terima kasih atas materinya. Menurut saya nomor 3 itu Tingkat SN sangat dipengaruhi oleh pelarut. Pelarut Protik— yang mengandung OH atau grup NH - umumnya yang terburuk untuk reaksi SN 2,sementara pelarut aprotik polar, yang polar tetapi tidak memiliki] OH atau] Grup NH, adalah yang terbaik. Pelarut protik, seperti metanol dan etanol, memperlambat reaksi SN 2 oleh solvasi nukleofil reaktan dan menurunkan energinya serta reaktivitas. Berbeda dengan pelarut protik, yang menurunkan tingkat reaksi SN 2 dengan menurunkan energi keadaan dasar dari nukleofil, pelarut aprotik polar meningkatkan laju reaksi SN 2 dengan meningkatkan energi ground-state dari nukleofil.

    BalasHapus
  7. Terima kasih atas materinya. Menurut saya nomor 3 itu Tingkat SN sangat dipengaruhi oleh pelarut. Pelarut Protik— yang mengandung OH atau grup NH - umumnya yang terburuk untuk reaksi SN 2,sementara pelarut aprotik polar, yang polar tetapi tidak memiliki] OH atau] Grup NH, adalah yang terbaik. Pelarut protik, seperti metanol dan etanol, memperlambat reaksi SN 2 oleh solvasi nukleofil reaktan dan menurunkan energinya serta reaktivitas. Berbeda dengan pelarut protik, yang menurunkan tingkat reaksi SN 2 dengan menurunkan energi keadaan dasar dari nukleofil, pelarut aprotik polar meningkatkan laju reaksi SN 2 dengan meningkatkan energi ground-state dari nukleofil.

    BalasHapus
  8. 1. Gugus alkil mengandung lebih banyak atom dan elektron daripada sebuah atom hidrogen. Makin banyak gugus alkil terika pada atom karbon bermuatan postif, berarti makin banyak atom yang dapat membantu membagi muatan positif itu dan menstabilkan karbokation.
    2. Pada kondisi yang sama, reaksi dengan energi aktivasi rendah akan berjalan dengan lebih cepat. Semakin sedikit energi yang diperlukan untuk reaksi, akan semakin banyak molekul yang memiliki cukup energi untuk bereaksi.
    3. Reaksi SN sangat dipengaruhi oleh pelarut. Pelarut Protik— yang mengandung OH atau grup NH - umumnya yang terburuk untuk reaksi SN 2,sementara pelarut aprotik polar, tetapi tidak memiliki OH atau grup NH, adalah yang terbaik. Pelarut protik, seperti metanol dan etanol, memperlambat reaksi SN 2 sedangkan pelarut aprotik polar meningkatkan laju reaksi SN 2.

    BalasHapus
  9. 1. Gugus alkil mengandung lebih banyak atom dan elektron daripada sebuah atom hidrogen. Makin banyak gugus alkil terika pada atom karbon bermuatan postif, berarti makin banyak atom yang dapat membantu membagi muatan positif itu dan menstabilkan karbokation.
    2. Pada kondisi yang sama, reaksi dengan energi aktivasi rendah akan berjalan dengan lebih cepat. Semakin sedikit energi yang diperlukan untuk reaksi, akan semakin banyak molekul yang memiliki cukup energi untuk bereaksi.
    3. Reaksi SN sangat dipengaruhi oleh pelarut. Pelarut Protik— yang mengandung OH atau grup NH - umumnya yang terburuk untuk reaksi SN 2,sementara pelarut aprotik polar, tetapi tidak memiliki OH atau grup NH, adalah yang terbaik. Pelarut protik, seperti metanol dan etanol, memperlambat reaksi SN 2 sedangkan pelarut aprotik polar meningkatkan laju reaksi SN 2.

    BalasHapus
  10. Terimakasih kuteng ilmunya,saya coba jawab pertanyaan nomor 1 dimana Gugus alkil mengandung lebih banyak atom dan elektron daripada sebuah atom hidrogen. Makin banyak gugus alkil terika pada atom karbon bermuatan postif, berarti makin banyak atom yang dapat membantu membagi muatan positif itu dan menstabilkan karbokation.

    BalasHapus
  11. Terima kasih ria. baiklah saya akan membantu menjawab pertanyaan nomor 2.
    Pada kondisi yang sama, reaksi dengan energi aktivasi rendah akan berjalan dengan lebih cepat. Semakin sedikit energi yang diperlukan untuk reaksi, akan semakin banyak molekul yang memiliki cukup energi untuk bereaksi.

    BalasHapus
  12. Terima kasih Ria,saya akan menjawab pertanyaan no 2 dan 3
    2. Pada kondisi yang sama, reaksi dengan energi aktivasi rendah akan berjalan dengan lebih cepat. Semakin sedikit energi yang diperlukan untuk reaksi, akan semakin banyak molekul yang memiliki cukup energi untuk bereaksi.
    3. Reaksi SN sangat dipengaruhi oleh pelarut. Pelarut Protik— yang mengandung OH atau grup NH - umumnya yang terburuk untuk reaksi SN 2,sementara pelarut aprotik polar, tetapi tidak memiliki OH atau grup NH, adalah yang terbaik. Pelarut protik, seperti metanol dan etanol, memperlambat reaksi SN 2 sedangkan pelarut aprotik polar meningkatkan laju reaksi SN 2.

    BalasHapus
  13. Hallo cabai:p
    1. Gugus alkil mengandung lebih banyak atom dan elektron daripada sebuah atom hidrogen. Makin banyak gugus alkil terika pada atom karbon bermuatan postif, berarti makin banyak atom yang dapat membantu membagi muatan positif itu dan menstabilkan karbokation.
    2. Pada kondisi yang sama, reaksi dengan energi aktivasi rendah akan berjalan dengan lebih cepat. Semakin sedikit energi yang diperlukan untuk reaksi, akan semakin banyak molekul yang memiliki cukup energi untuk bereaksi.
    3. Reaksi SN sangat dipengaruhi oleh pelarut. Pelarut Protik— yang mengandung OH atau grup NH - umumnya yang terburuk untuk reaksi SN 2,sementara pelarut aprotik polar, tetapi tidak memiliki OH atau grup NH, adalah yang terbaik. Pelarut protik, seperti metanol dan etanol, memperlambat reaksi SN 2 sedangkan pelarut aprotik polar meningkatkan laju reaksi SN 2.

    BalasHapus
  14. 2. Pada kondisi yang sama, reaksi dengan energi aktivasi rendah akan berjalan dengan lebih cepat. Semakin sedikit energi yang diperlukan untuk reaksi, akan semakin banyak molekul yang memiliki cukup energi untuk bereaksi.

    BalasHapus
  15. Yuhuuuu..
    3. Reaksi SN sangat dipengaruhi oleh pelarut. Pelarut Protik— yang mengandung OH atau grup NH - umumnya yang terburuk untuk reaksi SN 2,sementara pelarut aprotik polar, tetapi tidak memiliki OH atau grup NH, adalah yang terbaik. Pelarut protik, seperti metanol dan etanol, memperlambat reaksi SN 2 sedangkan pelarut aprotik polar meningkatkan laju reaksi SN 2.

    BalasHapus
  16. Hai kutengss
    Terima kasih atas materinya. Menurut saya nomor 3 itu Tingkat SN sangat dipengaruhi oleh pelarut. Pelarut Protik— yang mengandung OH atau grup NH - umumnya yang terburuk untuk reaksi SN 2,sementara pelarut aprotik polar, yang polar tetapi tidak memiliki] OH atau] Grup NH, adalah yang terbaik. Pelarut protik, seperti metanol dan etanol, memperlambat reaksi SN 2 oleh solvasi nukleofil reaktan dan menurunkan energinya serta reaktivitas. Berbeda dengan pelarut protik, yang menurunkan tingkat reaksi SN 2 dengan menurunkan energi keadaan dasar dari nukleofil, pelarut aprotik polar meningkatkan laju reaksi SN 2 dengan meningkatkan energi ground-state dari nukleofil.

    BalasHapus
  17. 3. Reaksi SN sangat dipengaruhi oleh pelarut. Pelarut Protik— yang mengandung OH atau grup NH - umumnya yang terburuk untuk reaksi SN 2,sementara pelarut aprotik polar, tetapi tidak memiliki OH atau grup NH, adalah yang terbaik. Pelarut protik, seperti metanol dan etanol, memperlambat reaksi SN 2 sedangkan pelarut aprotik polar meningkatkan laju reaksi SN 2.

    BalasHapus
  18. 1. Gugus alkil mengandung lebih banyak atom dan elektron daripada sebuah atom hidrogen. Makin banyak gugus alkil terika pada atom karbon bermuatan postif, berarti makin banyak atom yang dapat membantu membagi muatan positif itu dan menstabilkan karbokation.
    2. Pada kondisi yang sama, reaksi dengan energi aktivasi rendah akan berjalan dengan lebih cepat. Semakin sedikit energi yang diperlukan untuk reaksi, akan semakin banyak molekul yang memiliki cukup energi untuk bereaksi.
    3. Reaksi SN sangat dipengaruhi oleh pelarut. Pelarut Protik— yang mengandung OH atau grup NH - umumnya yang terburuk untuk reaksi SN 2,sementara pelarut aprotik polar, tetapi tidak memiliki OH atau grup NH, adalah yang terbaik. Pelarut protik, seperti metanol dan etanol, memperlambat reaksi SN 2 sedangkan pelarut aprotik polar meningkatkan laju reaksi SN 2.

    BalasHapus
  19. Makasih ria atas materinya saya akan coba jawab
    2. Pada kondisi yang sama, reaksi dengan energi aktivasi rendah akan berjalan dengan lebih cepat. Semakin sedikit energi yang diperlukan untuk reaksi, akan semakin banyak molekul yang memiliki cukup energi untuk bereaksi.
    3. Reaksi SN sangat dipengaruhi oleh pelarut. Pelarut Protik— yang mengandung OH atau grup NH - umumnya yang terburuk untuk reaksi SN 2,sementara pelarut aprotik polar, tetapi tidak memiliki OH atau grup NH, adalah yang terbaik. Pelarut protik, seperti metanol dan etanol, memperlambat reaksi SN 2 sedangkan pelarut aprotik polar meningkatkan laju reaksi SN 2.

    BalasHapus
  20. 1. Gugus alkil mengandung lebih banyak atom dan elektron daripada sebuah atom hidrogen. Makin banyak gugus alkil terika pada atom karbon bermuatan postif, berarti makin banyak atom yang dapat membantu membagi muatan positif itu dan menstabilkan karbokation.
    2. Pada kondisi yang sama, reaksi dengan energi aktivasi rendah akan berjalan dengan lebih cepat. Semakin sedikit energi yang diperlukan untuk reaksi, akan semakin banyak molekul yang memiliki cukup energi untuk bereaksi.
    3. Reaksi SN sangat dipengaruhi oleh pelarut. Pelarut Protik— yang mengandung OH atau grup NH - umumnya yang terburuk untuk reaksi SN 2,sementara pelarut aprotik polar, tetapi tidak memiliki OH atau grup NH, adalah yang terbaik. Pelarut protik, seperti metanol dan etanol, memperlambat reaksi SN 2 sedangkan pelarut aprotik polar meningkatkan laju reaksi SN 2.

    BalasHapus
  21. Ok Terima kasih atas materinya. Menurut saya nomor 3 itu Tingkat SN sangat dipengaruhi oleh pelarut. Pelarut Protik— yang mengandung OH atau grup NH - umumnya yang terburuk untuk reaksi SN 2,sementara pelarut aprotik polar, yang polar tetapi tidak memiliki] OH atau] Grup NH, adalah yang terbaik. Pelarut protik, seperti metanol dan etanol, memperlambat reaksi SN 2 oleh solvasi nukleofil reaktan dan menurunkan energinya serta reaktivitas. Berbeda dengan pelarut protik, yang menurunkan tingkat reaksi SN 2 dengan menurunkan energi keadaan dasar dari nukleofil, pelarut aprotik polar meningkatkan laju reaksi SN 2 dengan meningkatkan energi ground-state dari nukleofil.

    BalasHapus
  22. Hai kutengkuhh. Terimakasih eah atas materinya. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 2

    2. Pada kondisi yang sama, reaksi dengan energi aktivasi rendah akan berjalan dengan lebih cepat. Semakin sedikit energi yang diperlukan untuk reaksi, akan semakin banyak molekul yang memiliki cukup energi untuk bereaksi.

    BalasHapus
  23. Terimakasih ria
    Saya akan menjawab pertanyaan no 3 yaitu Tingkat SN sangat dipengaruhi oleh pelarut. Pelarut Protik— yang mengandung OH atau grup NH - umumnya yang terburuk untuk reaksi SN 2,sementara pelarut aprotik polar, yang polar tetapi tidak memiliki] OH atau] Grup NH, adalah yang terbaik. Pelarut protik, seperti metanol dan etanol, memperlambat reaksi SN 2 oleh solvasi nukleofil reaktan dan menurunkan energinya serta reaktivitas. Berbeda dengan pelarut protik, yang menurunkan tingkat reaksi SN 2 dengan menurunkan energi keadaan dasar dari nukleofil, pelarut aprotik polar meningkatkan laju reaksi SN 2 dengan meningkatkan energi ground-state dari nukleofil.

    BalasHapus
  24. erimakasih ria
    Saya akan menjawab pertanyaan no 3 yaitu Tingkat SN sangat dipengaruhi oleh pelarut. Pelarut Protik— yang mengandung OH atau grup NH - umumnya yang terburuk untuk reaksi SN 2,sementara pelarut aprotik polar, yang polar tetapi tidak memiliki] OH atau] Grup NH, adalah yang terbaik. Pelarut protik, seperti metanol dan etanol, memperlambat reaksi SN 2 oleh solvasi nukleofil reaktan dan menurunkan energinya serta reaktivitas. Berbeda dengan pelarut protik, yang menurunkan tingkat reaksi SN 2 dengan menurunkan energi keadaan dasar dari nukleofil, pelarut aprotik polar meningkatkan laju reaksi SN 2 dengan meningkatkan energi ground-state dari nukleofil.

    BalasHapus
  25. 1. Gugus alkil mengandung lebih banyak atom dan elektron daripada sebuah atom hidrogen. Makin banyak gugus alkil terika pada atom karbon bermuatan postif, berarti makin banyak atom yang dapat membantu membagi muatan positif itu dan menstabilkan karbokation.
    2. Pada kondisi yang sama, reaksi dengan energi aktivasi rendah akan berjalan dengan lebih cepat. Semakin sedikit energi yang diperlukan untuk reaksi, akan semakin banyak molekul yang memiliki cukup energi untuk bereaksi.
    3. Reaksi SN sangat dipengaruhi oleh pelarut. Pelarut Protik— yang mengandung OH atau grup NH - umumnya yang terburuk untuk reaksi SN 2,sementara pelarut aprotik polar, tetapi tidak memiliki OH atau grup NH, adalah yang terbaik. Pelarut protik, seperti metanol dan etanol, memperlambat reaksi SN 2 sedangkan pelarut aprotik polar meningkatkan laju reaksi SN 2.

    BalasHapus
  26. 1. Gugus alkil mengandung lebih banyak atom dan elektron daripada sebuah atom hidrogen. Makin banyak gugus alkil terika pada atom karbon bermuatan postif, berarti makin banyak atom yang dapat membantu membagi muatan positif itu dan menstabilkan karbokation.
    2. Pada kondisi yang sama, reaksi dengan energi aktivasi rendah akan berjalan dengan lebih cepat. Semakin sedikit energi yang diperlukan untuk reaksi, akan semakin banyak molekul yang memiliki cukup energi untuk bereaksi.
    3. Reaksi SN sangat dipengaruhi oleh pelarut. Pelarut Protik— yang mengandung OH atau grup NH - umumnya yang terburuk untuk reaksi SN 2,sementara pelarut aprotik polar, tetapi tidak memiliki OH atau grup NH, adalah yang terbaik. Pelarut protik, seperti metanol dan etanol, memperlambat reaksi SN 2 sedangkan pelarut aprotik polar meningkatkan laju reaksi SN 2.

    BalasHapus
  27. 1. Gugus alkil mengandung lebih banyak atom dan elektron daripada sebuah atom hidrogen. Makin banyak gugus alkil terika pada atom karbon bermuatan postif, berarti makin banyak atom yang dapat membantu membagi muatan positif itu dan menstabilkan karbokation.
    2. Pada kondisi yang sama, reaksi dengan energi aktivasi rendah akan berjalan dengan lebih cepat. Semakin sedikit energi yang diperlukan untuk reaksi, akan semakin banyak molekul yang memiliki cukup energi untuk bereaksi.
    3. Reaksi SN sangat dipengaruhi oleh pelarut. Pelarut Protik— yang mengandung OH atau grup NH - umumnya yang terburuk untuk reaksi SN 2,sementara pelarut aprotik polar, tetapi tidak memiliki OH atau grup NH, adalah yang terbaik. Pelarut protik, seperti metanol dan etanol, memperlambat reaksi SN 2 sedangkan pelarut aprotik polar meningkatkan laju reaksi SN 2.

    BalasHapus

© Ria's Blog | Blogger Template by Enny Law